Antisipasi Risiko dalam Proses Kebijakan Kredit di Perbankan

Antisipasi Risiko dalam Proses Kebijakan Kredit di Perbankan

Antisipasi risiko berkaitan dengan kualitas dan kemampuan bisnis unit dalam mendeteksi, mengantisipasi, menentukan tindakan pengamanan yang kemudian dituangkan dalam bentuk laporan sedini mungkin. Risiko yang tidak terkelola dengan baik akan dapat menimbulkan kredit yang tidak sehat (Non Performing Loan) seperti halnya Kredit fiktif, topengan (yang mengajukan bukan nasabah yang sebenarnya), maupun tampilan (adanya kerjasama dengan orang dalam terkait persetujuan kredit).

Untuk mitigasi tersebut unit bisnis perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut

  1. Pengungkapan risk area untuk setiap pembiayaan baik dari segi manajemen usaha, keuangan maupun makro ekonomi yang tercantum dalam proposal pengajuan kredit dan tanggapan komite kredit dalam persetujuan kredit.
  2. Pengadaan sistem Deteksi dini (Early Recognition Watch list) melalui media yang mencatat gejala yang  dianggap sebagai penyebab turunnya kualitas kredit.
  3. Melakukan klarifikasi (unfavourable info) mengenai nasabah yang  harus dijelaskan secara tertulis dan disertai dengan tindak lanjut yang diperlakukan.
  4. Pembuatan laporan rupa-rupa penyimpangan kredit terhadap nasabah yang kurang lengkap dokumennya. Reminder System untuk memperoleh tindak lanjut atas setiap  ketidaklengkapan dokumentasi kredit dan legal maupun keterlambatan pemenuhan kewajiban nasabah.
  5. Pengadaan sistem penggolongan kualitas kredit internal terhadap nasabah yang  telah menunjukan gejala penurunan disamping sistem kolektibilitas sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan.
  6. Membuat Phase Out program yang merupakan rencana unit bisnis untuk non target market dan kredit yang berpotensi masalah dengan menentukan tenggang waktu (target date)
  7. Memberikan perhatian khusus kepada pembiayaan yang memiliki kelemahan baik secara kualitatif dan kuantitatif antara lain sensitif terhadap perubahan yang terjadi, perubahan pemerintah, ketergantungan kepada supplier, bidang usaha diluar target pasar.
  8. Membuat daftar negatif industri sebagai upaya untuk menghindari unit bisnis melakukan pencatatan kredit terhadap sektor industri yang berisiko

Antisipasi risiko ini demi mencegah terjadinya kerugian bagi bank sehingga dapat memberikan kualitas kredit yang sehat (Performing Loan) bagi perusahaan 


Back to Top
Bitnami